Warga memanggilnya Mbah Riyan. Bagi mereka, ia adalah tukang bangunan andalan kampung. Tangannya yang kasar dan kapalan fasih memegang cetok, meratakan semen, dan menyusun bata. Di waktu senggang, ia adalah pemancing ulung yang bisa duduk berjam-jam hanya menunggu ikan menyambar umpan.
Tidak ada yang istimewa. Tidak ada sorot mata beringas seperti kiai, tidak ada serban atau jubah putih. Beliau bicara apa adanya, sesekali menyelipkan guyonan khas orang Jawa yang bikin warga terbahak.
Namun, jika Anda berani menyusuri lorong kecil menuju rumahnya yang dindingnya setengah tembok bata, Anda akan menemukan sebuah kamar sempit. Di dalamnya, ratusan buku kuning (kitab klasik) bertumpuk rapi. Meja kayu sederhana penuh dengan kertas-kertas bertuliskan guratan pena Arab yang halus.
Di ruang itulah, Mbah Riyan menyimpan rahasia terbesarnya. Sebuah nama yang menggema di forum-forum internasional: Ibnu Harjo.
DUA DUNIA DALAM SATU JIWA
Ada sebuah ironi manis yang melekat pada diri Mbah Riyan. Di kampungnya, ia adalah "Pak Tukang". Namun di kalangan akademisi Timur Tengah dan para peneliti kitab kuning di Malaysia, Mesir, hingga Maroko, nama Ibnu Harjo adalah rujukan utama.
Beliau adalah seorang Mu'alliq dan Muhaqqiq. Istilah ini mungkin asing di telinga awam, tapi di dunia pesantren, ini adalah pangkat tertinggi. Seorang Muhaqqiq adalah pakar yang mampu meneliti, mengoreksi, dan memberikan catatan kritis (ta'liq) terhadap manuskrip-manuskrip kuno yang ditulis ratusan tahun lalu.
Bisa dibilang, Mbah Riyan adalah seorang "dokter bedah" untuk kitab-kitab tua. Jika ada teks yang rusak, ambigu, atau perlu penjelasan, beliau adalah orang yang diandalkan.
"Saya tidak pernah mencari ini," ujar Mbah Riyan dengan logat Jawa yang kental saat kami wawancarai di sela-sela istirahat memancing. "Ilmu itu datang mencari hamba-Nya yang ikhlas. Saya hanya ingin menjaga warisan para guru. Biar anak cucu nanti masih bisa membaca dan memahami apa yang sudah ditulis oleh ulama-ulama terdahulu."
12 JILID DAN 100 NASKAH: WARISAN UNTUK DUNIA
Bagi Mbah Riyan, menulis bukanlah ambisi. Itu adalah napas. Dari tangannya yang sehari-hari memegang palu, lahirlah lebih dari 100 naskah ilmiah dan 12 jilid kitab yang menjadi rujukan.
Salah satu karyanya yang fenomenal adalah Al-Istihsan, Haqiqotuhu wa Hujjiyyatuhu—sebuah kajian mendalam tentang konsep Istihsan (menganggap baik suatu hal) dalam hukum Islam.
Namun yang membuat para peneliti tercengang adalah deretan ta'liqat (catatan pinggir/kritik) beliau terhadap kitab-kitab besar karya ulama legendaris. Bayangkan, Mbah Riyan berani mengkritisi dan memberikan catatan terhadap kitab-kitab Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy, seorang ulama besar asal Jawa yang wafat pada tahun 1338 H (sekitar 1920 M). Beliau juga meneliti karya Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy, seorang ulama besar dari Damaskus yang hidup pada abad ke-17.
Berikut beberapa karya monumental yang pernah al-faqir baca dan menjadi bukti kedalaman ilmunya:
Dilalah Qorinah Al-Muwadlobah ‘Inda Al-Ushuliyyin (Tentang Indikasi Konteks dalam Ushul Fiqh)
Rodd Al-Hadits Al-Dlo’if bi Al-Kulliyyah Fitnah Kabiroh Mu’ashiroh (Kritik terhadap Hadits Lemah di Era Modern)
Is’af Al-Mutholi’ (4 Jilid): Catatan kritis (Ta'liq) atas karya Syaikh Mahfudz Al-Tarmasy Al-Jawy yang mencakup bab Ijtihad, Taqlid, Aqidah, dan Tasawuf. Ini adalah bukti bahwa Mbah Riyan menguasai fiqih, akidah, hingga ilmu jiwa (tasawuf) secara seimbang.
Tahqiq Al-Kalimat fi Al-Ushul Al-Fiqhiyyat: Penelitian mendalam atas karya Syaikh Abul Hasan Al-Bakri (w. 952 H).
Al-Taufiq Al-Jaliy Bain Al-Asy’ariy wa Al-Hambaliy: Sebuah upaya "rekonsiliasi" atau jembatan pemikiran antara dua mazhab teologi besar, Asy'ariyah dan Hanbali, yang merupakan ta'liq dari kitab Syaikh Abdul Ghoni Al-Nabulisy.
ILMU BUKAN UNTUK PANGGUNG
Di era media sosial seperti sekarang, seorang "alim" sering diukur dari jumlah pengikut atau kekerapan muncul di layar kaca. Mbah Riyan adalah antitesis dari itu semua.
Beliau adalah bukti hidup bahwa ilmu sejati tidak membutuhkan panggung. Ia tidak pernah menggelar pengajian akbar, tidak pernah bersuara lantang di mimbar. Ilmunya berbicara melalui tinta di atas kertas yang akan bertahan ratusan tahun setelah tubuhnya kembali ke tanah.
"Yang penting adalah manfa'at (kemanfaatan)," katanya sambil tersenyum. "Kalau tulisan saya bermanfaat untuk satu orang saja, itu sudah cukup bagi saya."
PESAN UNTUK GENERASI MUDA
Di sela-sela kesibukannya membangun rumah warga, Mbah Riyan menyempatkan diri untuk membimbing beberapa santri yang datang dari jauh. Mereka bukan datang karena panggung, tapi karena penasaran dengan "ilmu dari balik tembok bata".
Pesan beliau selalu sama: "Ojo kesusu (jangan terburu-buru). Ilmu iku yo koyo mbangun omah, kudu kuat pondasine. Yen pondasi miring, omah bakal rubuh. " (Ilmu itu seperti membangun rumah, harus kuat pondasinya. Kalau pondasinya miring, rumah akan roboh.)
EPILOG: MELINTASI LAUTAN
Dari genggaman tangan seorang tukang bangunan yang hobi mancing, lahir rumah-rumah kokoh bagi warga. Namun di balik itu, dari kamar sempit yang penuh buku, ia melahirkan jembatan ilmu yang menyeberangi lautan, menghubungkan Indonesia dengan dunia Islam klasik.
Masyarakat kampung akan terus mengenalnya sebagai Mbah Riyan, lelaki tua yang rajin memancing. Tapi peradaban Islam dan sejarah intelektual akan mengukir namanya sebagai Ibnu Harjo, sang ulama muhaqqiq yang ilmunya melintasi batas negeri.
Beliau mengajarkan kita sebuah pelajaran abadi: Kemuliaan tidak selalu gemerlap. Terkadang, ia justru bersembunyi di balik kesederhanaan.
