Filsafat ini tidak hanya relevan, tetapi justru menjadi kompas moral dan metodologis yang sangat dibutuhkan di tengah krisis karakter dan disrupsi teknologi. Berikut adalah ulasan mengenai trilogi pendidikan di era zaman sekarang:
1. Ing Ngarsa Sung Tuladha (Di Depan, Memberi Teladan)
Krisis Teladan Digital: Di era media sosial, "guru" tidak lagi hanya orang di sekolah. Influencer, selebgram, dan konten kreator juga menjadi panutan. Sayangnya, tidak semua memberi teladan yang baik. Seorang guru sekarang harus bersaing dengan pengaruh-pengaruh negatif dari dunia maya.
Teladan dalam Etika Bermedia: Teladan seorang guru tidak hanya saat di kelas, tetapi juga bagaimana ia bersikap di ruang digital. Guru dituntut untuk bisa menjadi contoh dalam menggunakan internet secara positif, bijak, dan tidak mudah terprovokasi oleh hoaks.
Konsistensi Perilaku: Di era yang transparan ini, peserta didik dapat dengan mudah melihat inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan. Seorang pemimpin (guru, orang tua, atasan) harus "autentik" dan menjadi model yang nyata, bukan sekadar teori.
2. Ing Madya Mangun Karsa (Di Tengah, Membangkitkan Semangat)
Dari "Sumber Ilmu" Menjadi "Rekan Belajar": Di era digital, informasi ada di ujung jari siswa. Guru bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Peran guru bergeser menjadi fasilitator atau mentor. Ia duduk di tengah, berkolaborasi dengan siswa untuk menemukan, mengolah, dan menganalisis informasi, bukan hanya menghafalnya.
Membangkitkan Karsa di Tengah Distraksi: Anak-anak zaman sekarang (digital native) hidup dengan distraksi tinggi (gadget, notifikasi, game). Tugas guru adalah membangkitkan "karsa" atau motivasi intrinsik mereka agar tetap fokus pada hal-hal yang esensial dan bermakna.
Menciptakan Ruang Diskusi: Metode ceramah satu arah sudah usang. "Ing Madya" berarti menciptakan dialog, diskusi, dan pembelajaran kolaboratif di mana guru dan murid sama-sama aktif.
3. Tut Wuri Handayani (Dari Belakang, Memberi Dorongan)
Ini adalah Inti dari "Merdeka Belajar": Filosofi ini sangat sejalan dengan konsep Kurikulum Merdeka yang digalakkan saat ini. Guru berperan sebagai "penggerak" yang membebaskan potensi siswa. Ia tidak memaksa, tetapi menyediakan pilihan-pilihan dan mendukung eksplorasi minat siswa.
Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa: Dorongan dari belakang berarti memberikan kepercayaan kepada siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajarnya sendiri (student-centered learning). Guru hadir untuk memastikan mereka tidak tersesat, namun membiarkan mereka berjalan dengan kakinya sendiri.
Membangun Kemandirian: Di era yang serba instan, anak-anak rentan menjadi pribadi yang manja dan tidak tahan banting. Peran "Tut Wuri" adalah untuk mendorong mereka agar berani mencoba, berani gagal, dan bangkit kembali, sehingga terbentuk jiwa yang mandiri dan tangguh.
Kesimpulan: Sebuah Simbiosis yang Sempurna
Di era sekarang, ketiga peran ini tidak bisa dipisahkan dan harus dijalankan secara dinamis:
Seorang guru bisa menjadi teladan (Ing Ngarsa) saat mengenalkan nilai-nilai etika dalam menggunakan teknologi.
Satu menit kemudian, ia harus turun menjadi teman diskusi (Ing Madya) untuk membahas suatu fenomena viral dari sudut pandang ilmiah.
Dan sepanjang waktu, ia harus terus mendorong (Tut Wuri) agar murid-muridnya mampu menghasilkan karya digital yang positif, bukan hanya menjadi konsumen pasif.
Trilogi ini mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi tentang pembentukan karakter dan kemandirian, sebuah kebutuhan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, bahkan di era secanggih apapun.
